محمد نور توفيق

محمد نور توفيق
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُYAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII 'ALAA DIINIKA "WAHAI YANG MEMBOLAK-BALIKKAN HATI, TEGUHKAN HATIKU PADA AGAMA-MU" Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kita meminta pertolongan kepada-Nya, kita meminta ampunan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikut mereka yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du. http://shohibulummah.blogspot.com/ facebook : muhammadnurtaufiq@rocketmail.

Rabu, 08 Juni 2011

Getaran Kuantum Cahaya Qalbu

Getaran Kuantum Cahaya Qalbu

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat- ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."( QS. Al Anfaal 8:2 )

"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?"
( QS. Az-Zumar 39:22 )

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun." ( QS. Az-Zumar 39:23 )

Apa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.

Konon, energi terpancar melalui getaran. Manfaatnya dapat memberikan tenaga gerak pada segala sesuatu. Misalnya matahari sebagai sumber energi. Getaran hasil reaksi fusi di dalam matahari mampu memancarkan foton-foton yang membentuk cahaya. Lalu ia mampu menumbuhkan tanaman. Kemudian daun-daun hijau (klorofil) menghasilkan oksigen. Gerakan oksigen yang terpancar di udara inipun kemudian dimanfaatkan manusia dan mesin-mesin untuk bernafas sehingga menggerakan energi berikutnya.

Getaran Listrik juga demikian. Gaya gerak listik (GGL) yang tercipta dari hasil fluktuasi magnet pada generator menghasilkan ion positif dan negatif. Dari keduanya kemudian mengalir dengan deras ke selang-selang kabel sehingga mampu menghidupi mesin-mesin listrik dan lampu-lampu. Sehingga dunia menjadi ramai dan memakmurkan penduduk bumi.

Bunyi-bunyian tercipta dari getaran. Suara yang keluarkan mulut seseorang, dihasilkan dari getaran pita suaranya. Lalu udara sekitarnya bergetar dan gelombangnya ditangkap membrane dalam genderang telinga sehinggalah segala ucap dimengerti. Begitu pula suara yang dikeluarkan dari audio stereo digetarkan oleh membrane yang terdapat dalam speaker dan digetarkan ke udara lewat foton dan ditangkap lagi oleh genderang telinga yang bergetar. Sehinggalah dari getaran ini pula semua kata/lagu dimengerti.

Keimanan (rasa beragama) juga timbul dari getaran. Getaran ini mirip gelombang sinus istilah Nabi saw: kadang yazid kadang yankus ( naik turun). Namun demikian seperti contoh di atas, orang masih ada keimanannya (rasa keberagamaanya) saat waktu kritis pun masih maumengerjakan misalnya shalat. Getaran sosial pun juga. Ketika melihat ada tetangga membutuhkan, ia tergerak untuk membantu tanpa ingin dipuji atau semisalnya. Bagi pemimpin yang bergetara rasa keagamaanya, ia tidak mau sedikitpun untuk korupsi dan lain-lain.

Dalam sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan kalimat: “wajilat qulubuhumhati mereka bergetar. “waidza tuliyat ‘alaihim ayatuhu, zaadathum imaana”, kemudian jika dibacakan ayat-ayat (al qur’an) bertambahlah keimanan mereka. Dengan demikian, adakah hubungan yang signifikan antara getaran hati dengan rasa keberagamaan seseorang ?

Boleh jadi, rasa beragama merupakan citra yang didapat hasil dari bergumulnya keagamaan seseorang dalam kesehariannya. Namanya rasa, ada rasa manis, pahit, asem atau getir. Nah, karena agama bersifat meruhani tentu saja rasa ini pun sifatnya ruhani. Ternyata, jika dirunut-runut, rasa beragama ini bermula dari getaran hati karena reaksi pada dzikir kepada Allah. Misalnya pada ayat di atas, “jika mengingat akan Allah, hatinya bergetar.”

Sebagai contoh kecil, Misalnya pengalaman yang mungkin menimpa saya, Anda, teman saya atau siapapun. Pernah suatu ketika saat hendak mengerjakan shalat ashar namun waktu sudah mendekati finish (maghrib). Ketika mendengar atau melihat jam sudah setengah enam, saat itu, di musholla/Masjid terdengar pengajian menjelang maghrib. Kondisi di jalanan tengah macet luar biasa. Lalu dipaksakanlah mampir di masjid untuk segera mengerjakan shalat karena khawatir tidak kebagian waktu. Meskipun mengerjakan shalat ashar itu menjelang maghrib, maka konon, siapaupun orang ini dalam hatinya masih mampu bergetar. Padahal itu hasil mendengarkan pengajian dari speaker atau saat melihat jam tangan.

Bayangkan jika tidak ada getaran dalam hatinya, jangankan mendengarkan suara pengajian, mendengar adzan saat waktu shalat tiba saja mungkin tidak akan memperdulikannya. Apalagi menjelang waktu shalat hampir selesai. Kadang terdengar ungkapan: “Masa bodoh ah!”, “baju saya kotor” atau ungkapan “nanti saja lah shalatnya” dan seterusnya. Tuhanlah yang mengetahui getaran sehalus apapun yang dipancarkan oleh Hati manusia. “Inaallaha alimun bidzatissuduur” (Allah mengetahui getaran yang dihasilkan oleh hati manusia).

Nabi saw, adalah contoh yang paling hebat getaran hatinya. Diceritakan dalam berbagai versi hadits dimana Rasulullah saw shalat malam hingga menjelang subuh. Dengan rakaat yang panjang-panjang dan seringkali menangis. Hingga pada saat hampir masuk waktu subuh, sahabat Bilal bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa Anda menangis bukankah Anda orang yang dijamin Allah masuk syurga.” Lalu Rasulullah saw menjawab: “Aku belum menjadi hamba yang bersyukur”.

Shabahat Ali kw, saat mendengarkan adzan berkumandang, muka beliau pucat karena akan menghadap Allah SWT. Kemudian cucunya, Ali Zainal Abidin, saat setelah berwudlu, mukanya pucat sekali. “Mengapa tuan mukanya, pucat?” tanya seseorang. “Bukankah kita akan menghadap Allah SWT (shalat).” Jawab beliau.

Akhirnya, getaran frekuensi merupakan gejala alam (sunnatullah) ini berlaku kepada alam makrokosmos. Demikian pula alam mikrokosmos seperti atom. Di dalamnya terdapat elektron yang senantiasa bergetar tiada henti. Alam jiwa seperti hati yang kita miliki pun terus-menerus bergetar yang getarannya mampu mencapai Arasy… Wallahu a’lam.

Mendeteksi Sehatnya Qalbu

Mendeteksi Sehatnya Qalbu

kalbu
Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab ،§Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan.،¨ Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur،¦an. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.Mengembara ke Akhirat
Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ،¥alaihi wasallam bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)

Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.

2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata،¦ala
Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata،¦ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.
Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata،¦ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Abul Husain al-Warraq berkata, “Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”
Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata،¦alaƒnlebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata،¦ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata،¦ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata،¦ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.
6.Khusyu’ dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata،¦ala.
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata،¦ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata،¦ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata،¦ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.
Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata،¦ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,
،§Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.،¨ (QS. 89:27-28)
Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.،¨
Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.،¨
Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata،¦ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.”
Semoga Allah subhanahu wata،¦ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.

RAHASIA-RAHASIA QALBU



 
 


 
 


RAHASIA-RAHASIA QALBU

Banyak dari kita telah mengetahui bahwa Qalbu yang terhubung dengan Titik Tuhan (God Spot) -atau oleh penulis kadang menyebutnya sebagai Cahaya Kalbu, Cahaya Pengetahuan atau Guru Kehidupan - adalah Kesadaran Universal tentang Kebaikan yang ada pada tiap manusia.

Namun kemampuan Qalbu yang terhubung dengan Titik Tuhan (God Spot) ini tidaklah sebatas pada itu saja. Cahaya Kalbu tak hanya menuntun kita untuk berbuat kebaikan-kebaikan yang berlaku universal itu, tapi lebih dari itu, khususnya bagi mereka yang telah "Tercerahkan" ('Aarif dalam bahasa Arab), juga mengajarkan kita dengan izin-Nya tentang segala Rahasia-rahasia sesuatu yang tidak dapat terpikirkan atau terbayangkan sebelumnya oleh Akal Kognitif, sekalipun sejenius apapun diri kita. Sebab, kapasitas Akal Kognitif terbatas dalam menyerap dimensi keseluruhan Ruang, Cahaya dan Waktu Alam Semesta sedangkan Cahaya Kalbu tidak.

Walau Cahaya Kalbu tertanam pada setiap orang untuk menuntun Ruh orang itu kembali kepada-Nya, tidak setiap orang dapat belajar langsung dari Cahaya Kalbu yang berada dalam dirinya. Sebaliknya, mereka yang telah dianugerahi hikmah makrifat oleh Allah melalui Cahaya Kalbu dalam Ruh dirinya tidak akan lagi takjub membaca ulasan-ulasan kaum 'aarif ataupun uraian-uraian nabi-nabi yang banyak mengulas tentang Hakikat-Hakikat tersembunyi seperti uraian-uraian Nabi Idris (Enoch dalam Bibel), Nabi Ya'qub (Yakob), Nabi Khidhr, Nabi Dawud (David), Nabi Sulayman (Solomon), Nabi Ilyas (Elia), Nabi Ilyasa'a (Elisya), Nabi Ayub, Nabi 'Isa (Yesus) ataupun Rasul Muhammad Saw. Sebab, mereka yang diberkahi makrifat oleh Allah melalui Cahaya Kalbu telah "diperlihatkan" visi/ru'yah/mimpi dan "diperdengarkan" suara yang kadangkala berbunyi bagaikan gemericik air yang bening menyejukkan atau dilain waktu berbunyi bagaikan bukan suara wanita-bukan suara pria, bukan suara orang tua-bukan suara orang muda, bukan bersuara dari dekat (berbisik) tapi bukan juga bersuara dari jauh (gema), suara yang mengandung dualitas sifat yang memadukan Keindahan/Keelokan (Jamal) dan Keagungan/Kebesaran (Jalal) yang amat menyentuh dan mendamaikan jiwa, dan mengajarkan kepada mereka yang dapat "melihat" dan "mendengar"-nya tentang hal-hal yang tersembunyi nan menakjubkan yang tak pernah diketahui, terpikirkan bahkan terbayangkan sebelumnya oleh mereka, tapi menjawab segala keraguan dan kegelisahan dalam diri mereka tentang Hidup, Kehidupan, Takdir, Dunia Akhirat dan Rahasia-rahasia Ketuhanan lainnya. Dan, tingkat pengetahuan yang dapat "dilihat" atau "didengar" oleh mereka yang "tercerahkan" adalah sesuai dengan tingkat kesalehan pribadi mereka masing-masing.

Meski demikian, seseorang yang mampu berguru pada Cahaya Kalbu yang ada dalam Ruh dirinya belum tentu memberikan jawaban yang sama untuk masalah yang sama dengan orang lain yang juga telah berguru pada Cahaya Kalbu. Sebab, walau ada beberapa orang yang diperlihatkan dan/atau diperdengarkan Hakikat yang sama namun kemampuan akal kognitif (kemampuan mental dan emosional) untuk menyerap Hakikat tersebut pada tiap orang berbeda-beda. Contoh, ketika Allah memperkenalkan Diri-Nya, Nabi Adam mengidentifikasikan-Nya sebagai Sang Pencipta lagi Maha Penguasa. Nabi Ibrahim mengidentifikasikan-Nya sebagai EL yang maknanya kurang lebih Yang Maha (baca: Tinggi Tak Terjangkau) Diatas dan Maha Meliputi Segala-galanya. Sedang Nabi Musa mengidentifikasikan-Nya (dalam bahasa ibu dan bahasa sehari-hari Beliau, yaitu Bahasa Ibrani) sebagai YAHWEH (YHWH) yang artinya kurang lebih Ya DIA (adalah DIA) Yang Maha Hadir alias Dialah Realitas Sejati. Rasul Muhammad saw. sendiri mengidentifikasikan-Nya sebagai ALLAH Yang Mempunyai Nama-Nama Indah (Al-asma 'ul-Husna) yang mewakili kemahasempurnaan DIRI ALLAH dan tak terhingga jumlahnya (jumlah "99" Al-asma 'ul-Husna dalam Al-Qur'an menyiratkan ketak-terhinggaan) sebagai RABB atau Penguasa Alam Semesta alias Satu-Satunya Tuhan Yang sebenarnya hanya boleh dan patut Disembah oleh semua makhluk yang ada di alam semesta ini, meski di antara kaum makhluk itu menyeru Nya dengan Nama-Nama yang berbeda-beda namun Dialah Satu-Satunya Tuhan Sejati kita semua.

Juga dengan adanya perbedaan perspektif dalam menangkap HAKIKAT, bisa dipahami mengapa pendekatan dakwah Nabi Nuh dan Nabi Musa pada satu sisi dengan Nabi Ibrahim dan Nabi 'Isa pada sisi lain berbeda. Dua yang pertama berdoa demi kehancuran kaum kafir, sedangkan dua yang terakhir berdoa demi keselamatan (baca: bertobatnya) kaum kafir. Walau demikian, keempat-empat nabi mulia itu membawa wahyu yang sama dari Yang Tunggal.

Lalu bagaimana dapat berguru kepada "Cahaya Kalbu"? Dalam hal ini, berdasarkan pengalaman empiris, penulis peroleh kesadaran bahwa untuk dapat berguru kepada "Cahaya Kalbu" tergantung pada tiga hal. Yaitu: Niat, Usaha dan Waktu. Dua hal yang pertama kuncinya ada pada diri kita sendiri sedang hal yang terakhir tergantung kepada Allah Yang Maha Menetapkan. Untuk masalah Niat dan Usaha, bisa dibaca dalam tulisan-tulisan seperti, diantaranya, dalam bait-bait "Pengobat Jiwa", "Bahagia", "Asmaul Husna Dizkrullaah", "Rahasia-Rahasia Makrifah", "Cahaya Pengetahuan", "Ilmu Berguru" maupun bait-bait singkat "Guru Kehidupan" sebagai berikut:

GURU KEHIDUPAN
guru terbaikmu ada dalam dirimu
guru terburuk pun ada dalam dirimu
maka bersihkan hatimu... dengan khusyuk sholat, doa, dzikir
lebih mulia bila diikuti dengan puasa ikhlas senin kamis rutin
agar guru yang baiklah yang menuntun
jalan pikiran dan hidupmu

(18 Dzul Hijjah 1422H)

Sedangkan perihal syarat WAKTU berkaitan dengan Takdir (baca: Ketetapan) Tuhan. Ada orang yang terkenal impulsif, tak sabaran, tapi bila Allah telah menetapkan dia mendapat Karunia Pengetahuan langsung dari-Nya pada waktu itu jua, tak ada yang dapat mencegah. Contohnya, Nabi Musa. Juga ada hamba-hamba-Nya yang mendapat Wahyu (untuk Nabi) atau Ilham Makrifah (untuk manusia biasa) pada saat kanak seperti dalam kasus Nabi Ibrahim, Nabi Yahya dan Nabi 'Isa (Yesus). Ada yang pada usia remaja, seperti Nabi Isma'il, Nabi Ya'qub, Nabi Yusuf. Dan, ada hamba-hamba-Nya yang mendapat Wahyu atau Ilham Makrifah baru pada usia sekitar 40 tahun atau lebih, seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Musa, Nabi Harun. Sedang Baginda Rasul Muhammad saw. mendapat Wahyu, menurut perhitungan Kalendar Masehi, dalam usia mendekati umur empat puluh atau akhir umur 39 tahun.

Dengan adanya Ketetapan Waktu ini, Allah ingin mengajarkan kepada manusia bahwa bagi mereka yang telah berusaha lama untuk mendapat Ilmu Makrifat-Nya tapi belum mendapatkannya janganlah berputus asa karena mungkin belum waktunya. Sedangkan bagi mereka yang saat muda telah mendapat "Pencerahan" harus senantiasa rendah hati dan mau mempertimbangkan pendapat orang lain karena mungkin saja, sahabat-sahabat sebaya mereka yang belum mendapat "Pencerahan" saat ini bisa jadi di waktu mendatang menjadi "Tercerahkan" melebihi mereka yang lebih dulu "tercerahkan".

Dan ciri-ciri orang yang tercerahkan tampak sekali pada sikap pribadi yang dapat mentransformasikan sekaligus dualitas sifat Jamal (Keindahan) dan Jalal (Keagungan) ILAHI dalam kehidupannya sehari-hari. Yaitu:

"Lembut tapi tegas, berani tapi santun, pembawaannya hangat tapi menjaga batas, berpengetahuan cemerlang tapi rendah hati; sabar terhadap hasil, kukuh-jujur dalam berusaha; tak tergoda jabatan sebelum berkuasa tapi melayani masyarakat pabila berkuasa; pantang meminta-minta (kecuali kepada Allah) justru bersedekah (meski hanya mampu menyumbang senyuman tulus) saat papa, dermawan dan sederhana saat kaya; tiada sedih soal mati, tiada takut menghadapi hidup; memberi banyak kebaikan kepada kehidupan, tersenyum bahagia saat tiba kematian; hidup-mati sebagai Kekasih Tuhan dan Sahabat bagi banyak orang."

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang diberkahi seperti yang demikian. Amiin ya Rabbal 'Aalamiin.

Qalbu

Qalbu

Qalbu adalah Singgasana Allah, Pusat kendali diri setiap manusia
Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili [1366M - 1430M]

Qalbu adalah Singgasana Allah
Pusat kendali diri setiap manusia
Landasan penampakkan Al Haq
Ranah hamparan kasih rahmatNya
Ia adalah cerminan hakikatNya
Mikroskop nilai keluhuranNya
Wadah penampung kalamNya
Jaring penangkap isyarat-isyaratNya

Ia dianalogikan dengan cahaya
Diurai dengan huruf-huruf Qur’ani
Ia laksana, minyak dan lampu
Dalam Misykat serta kaca menyala

Ia mudah terbalik dan pongah,
Qalbu yang ingat mulia, yang lalai nista,
Ia kadang bersinar, kadang gelap,
Ia menyinari jagad diri dan kehidupan,

Qalbu didatangi DutaNya untuk
Dipersiapkan menerima tugas ketuhanan
Qalb suci bermoral malaikatNya
Qalbu kotor berkarakteri setan terlaknat

Qalbu adalah penanda setiap insan
Adakah ia manusia baik atau buruk
Ia merupakan pundi rahasia batin
Samudera pengetahuan setiap manusia
Ia kunci pembuka keagunganNya
Pintu pembentang rahasia-rahasiaNya

Itulah wajah hakiki qalbumu yang sesungguhnya
Simpanlah rahasia batinmu, kau akan melihat rahasiaNya

Kebahagiaan dunia bisa diraih dengan jejak kaki
Kebahagiaan hakiki akhirat hanya bisa ditempuh dengan qalbu

Penyingkapan Agung dan tirai Makrifat terbuka oleh “laku“ qalbu
Rapor kebaikan dan keburukan setiap insani berdasar “laku“ qalbu

Manusia yang membiarkan kalbunya penuh noda hati
Selamanya tidak akan merasakan penyingkapan rahasia AgungNya

Qalbu adalah perbendaharaan agung
Modal utama setiap manusia menujuNya
Insan yang tidak memuliakan kalbunya
Akan menuai keburukan abadi di sisiNya

Qalbu adalah landasan pacu hakikat
Nilai hakiki tidak akan landing di qalbu yang kotor
Qalbu yang tidak suci berlumur hijab
Qalbu yang terhijab tidak akan Makrifatullah

Qalbu adalah media Wushul da Qurb
Keintiman denganNya juga dengan “laku“ qalbu
Hakikat kebaikan bersendikan qalbu
Kebaikan yang tidak bernurani, adalah busuk

Ilham suciNya turun di qalbu suci
Qalbu buruk adalah landasan bisikan jahat setan
Muara “laku“ qalbu adalah ridhaNya
KerelaanNya hanya berdasarkan “laku“ qalbu jernih
KemurkaanNya akibat “ulah“ qalbu
Siksa pedih akhirat juga akibat “ulah“ busuk qalbu

Qalbu adalah sentra penentu nasib
Kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki akibat qalbu
Qalbu yang taat beroleh ridhaNya
Qalbu yang kufur, akan menuai kemurkaanNya
Qalbu yang pongah dan tersesat
Adalah qalbu yang lupa mendzikir padaNya
Wajah kebaikan qalbu adalah lurus
Wajah kesesatan qalbu, tindak kemaksiatannya

Tajamkan mata Qalbu dan pikir
Akan tersingkap keagungan rahasia ayat-ayatNya
Qalbu adalah pengantin jasad dan ruh
Hanya Qalbu Sakinah yang sambung dengan DiriNya



Lihatlah kepada “laku“ baik qalbumu
Itulah rahasia batinmu, dan modal utamamu menujuNya
Pandanglah kebaikan-kebaikanNya
Akan ditampakkan untukmu segala makna hakiki

Mendeteksi Sehatnya Qalbu (Hati)

Mendeteksi Sehatnya Qalbu (Hati)    
 
Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab ¡Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan.¡¨ Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur¡¦an. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.Mengembara ke Akhirat
Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ¡¥alaihi wasallam bersabda, "Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan." (HR. al-Bukhari)
Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.
2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata¡¦ala

Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata¡¦ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.
Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata¡¦ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Abul Husain al-Warraq berkata, "Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya."
Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata¡¦alaƒnlebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata¡¦ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata¡¦ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata¡¦ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.
6.Khusyu' dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata¡¦ala.
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata¡¦ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata¡¦ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata¡¦ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.
Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata¡¦ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,
¡Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, "Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.¡¨
Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, " Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.¡¨
Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata¡¦ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, "Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku." Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, "Telah disingkirkan keburukan dari sisiku."
Semoga Allah subhanahu wata¡¦ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.
Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.

--------------
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin
-----------
sumber : alsofwah.or.id

Jumat, 20 Mei 2011

Fakta Menarik, Macam-Macam Warna yang Dihasilkan Api

Fakta Menarik, Macam-Macam Warna yang Dihasilkan Api

Kalian semua pasti sudah paham tentang api, baik itu kegunaannya dalam hidup kita sehar-hari ataupun dari pelajaran yang kalian dapat. Tapi tahukah kalian, kenapa api itu bisa memiliki beberapa warna dan apakah perbedaan dari masing-masing warna api tersebut. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai warna dan jenis api.


1. Api Merah

Api berwarna merah / kuning ini biasanya bersuhu dibawah 1000 derajat celcius. Api jenis ini termasuk api yang "kurang panas" dikarenakan jarang atau kurang sering digunakan di pabrik-pabrik industri baja / material. Kalau pada matahari, api ini berada pada bagian paling luarnya, yaitu bagian yang paling dingin.


2. Api Biru

Api berwarna biru merupakan api yang mungkin sering kita jumpai di dapur. Biasanya api ini sering kita lihat di kompor gas. Rata-rata suhu api yang berwarna biru kurang dari 2000 derajat celcius. Api ini berbahan bakar gas dan mengalami pembakaran sempurna. Jadi tingkatan api biru diatas merah.


3. Api Putih

Ini merupakan api paling panas yang ada di bumi. Warna putihnya itu dikarenakan suhunya melebihi 2000 derajat celcius. Api inilah yang berada di dalam inti matahari, dan muncul akibat reaksi fusi oleh matahari. Api ini paling banyak digunakan di pabrik-pabrik yang memproduksi material besi dan sejenisnya.


4. Api Hitam (Api Terpanas dari Neraka)

Tapi tahukah kalian bahwa api yang paling panas itu berwana Hitam, dan api hitam murni yang sesungguhnya ada di Neraka.

Ini bisa dibuktikan dari waktu Allah SWT yang memerintahkan malaikat mengambil api dari neraka buat kehidupan di bumi, Si Penjaga Neraka memberikan api dari neraka hanya seukuran semut, lalu didinginkan dahulu sampai 70 masa (sekitar 350 ribu tahun kalau di bumi), lalu perlahan api tersebut berubah warna dari HITAM > PUTIH > BIRU > MERAH

Api hitam itu bisa saja disimulasikan (disimulasikan ya, bukan dibuat aslinya). Kalau misalnya kita lihat nyala api lilin atau kompor bunsen dengan seksama, maka ada perbedaan spektrum warna di dalamnya.

Nah, kalian bisa lihat kan, kalau di bagian pangkal api ada bagian kecil yang warnanya nyaris transparan? Itulah yang disebut dengan api hitam. Karena definisi warna hitam pada spektrum warna cahaya adalah sebenarnya ketiadaan cahaya, jadi kelihatannya transparan.

Ini adalah bagian yang paling panas, sehingga kalau mau memanaskan reaksi kimia, tabung uji harus ditempatkan di bagian ini.

Nah gambar diatas ini adalah contoh untuk simulasi yang lebih jelas. Kalian bisa lihat kan, kalau apinya seolah menggantung di atas sumbu lilin? Nah, bagian transparan itulah yang disebut api hitam.


Simulasi Untuk Membuat Warna Api

Warna dari api juga bisa dibuat dengan pembakaran bahan kimia atau unsur golongan alkali / alkali tanah, contoh :

1. Red Strontium Chloride = api merah (pakai Stronsium)
2. Orange Calcium Chloride = api oranye (pakai Kalsium)
3. Yellow Sodium Chloride = api kuning (pakai Sodium)
4. Green Copper Sulfate = api hijau
5. Blue Copper Chloride = api biru
6. Violet 3 parts Potassium Sulfate 1 part Potassium Nitrate = api ungu
7. White Magnesium Sulfate = api putih (pake Magnesium

Dan terakhir kalau semua bahan itu dicampur akan menghasilkan api warna warni.



Gambaran Tentang Panasnya Api Hitam di Neraka

Allah SWT berfirman (artinya):

“Maka, Kami akan memperingatkan kamu dengan An Naar yang menyala-nyala.” (Al Lail : 14)

Bagaimana gambaran dahsyatnya api neraka yang telah Allah subhanahu wata’ala sediakan itu? Hal itu telah digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadist yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“(Panasnya) api yang kalian (Bani Adam) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.


Para sahabat bertanya:

“Demi Allah, apakah itu sudah cukup wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?”


Rasul bersabda:

“(Belum), sesungguhnya panasnya sebagian yang satu melebihi sebagian yang lainnya sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim no. 2843)

Api neraka itu juga melontarkan bunga-bunga api. Seberapa besar dan bagaimana warna bunga api tersebut?


Allah SWT telah gambarkan hal tersebut dalam surat
Al Mursalat: 32-33 (artinya):

“Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah seperti iringan unta yang kuning.”


Berkata Asy Syaikh As Sa’di dalam tafsir ayat ini:

“Sesungguhnya api neraka itu hitam mengerikan dan sangat panas.” (Lihat Taisirul Karimir Rahman)

Suhu Sebuah Bintang Dapat Diprediksi Dari Warnanya

Kita juga bisa mengetahui suhu bintang dari warnanya, contoh:

Matahari kita (Matahari adalah bintang) berwarna kuning, itu berarti antara merah dan biru, untuk BRG (Big Red Giant atau Raksasa Merah Besar) berwarna merah, berarti paling tidak panas. Untuk biru dan ungu (contohnya Sirius) berarti super panas.

Mengungkap Rahasia Sebenarnya Asal - Usul AIDS

Mengungkap Rahasia Sebenarnya Asal - Usul AIDS

Virus HIV AIDS sebenarnya bukan berasal dari simpanse, tetapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu. (Jerry D. Gray, Dosa-dosa Media Amerika - Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat, Ufuk Press 2006 h. 192).



Tulisan Allan Cantwell, Jr. M.D. ini mengungkapakan rahasia asal-usul AIDS dan HIV, juga bagaimana ilmuwan menghasilkan penyakit yang paling menakutkan kemudian menutup-nutupinya.


Teori Monyet Hijau

1. Tidak sedikit orang yang sudah mendengar teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia. Menurut The New York Times yang terbit 29 Oktober 1990, tiga puluh persen penduduk kulit hitam di New York City benar-benar percaya bahwa AIDS adalah "senjata etnis" yang didesain di dalam laboratorium untuk menginfeksi dan membunuh kalangan kulit hitam.

Sebagian orang bahkan menganggap teori konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya dibandingkan teori monyet hijau Afrika yang dilontarkan para pakar AIDS. Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti telah membuktikan bahwa teori monyet hijau tidaklah benar.

Namun kebanyakan edukator AIDS terus menyampaikan teori ini kepada publik hingga sekarang. Dalam liputan-liputan media tahun 1999, teori monyet hijau telah digantikan dengan teori simpanse di luar Afrika. Simpanse yang dikatakan merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah.


2. "Pohon keturunan" filogenetik virus primata (yang hanya dipahami segelintir orang saja) ditampilkan untuk membuktikan bahwa HIV diturunkan dari virus primata yang berdiam di semak Afrika. Analisis data genetika virus ditunjukkan melalui "supercomputer" di Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa HIV telah "melompati spesies", dari simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di Afrika.

Catatan penting: Los Alamos kebetulan saja merupakan sentra pembuatan bom nuklir, hasil persekutuan mata-mata Cina, dan laboratorium tempat dilakukannya eksperimen rahasia radiasi manusia terhadap penduduk sipil yang tidak merasa curiga. Eksperimen ini telah dilakukan sejak tahun 1940-an hingga awal epidemik AIDS.


Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada Pria Gay (1978-1981)

Ribuan pria gay mendaftar sebagai manusia percobaan untuk eksperimen vaksin hepatitis B yang "disponsori pemerintah AS" di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun, kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom defisiensi kekebalan terkait gay, yang belakangan dikenal dengan AIDS.

Di awal 1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan ini dipercaya sebagai asal-usul berevolusinya HIV. Banyak orang masih merasa takut mendapat vaksin hepatitis B lantaran asalnya yang terkait dengan pria gay dan AIDS. Para dokter senior masih bisa ingat bahwa eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat dari kumpulan serum darah para homoseksual yang terinfeksi hepatitis.

Kemungkinan besar HIV "masuk" ke dalam tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini. Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di New York pada awal 1978 dan di kota-kota pesisir barat sekitar tahun 1980-1981.

Apakah jenis virus yang terkontaminasi dalam program vaksin ini yang menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan program WHO di Afrika? Bukti kuat menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak lama setelah program vaksin ini. AIDS merebak pertama kali di kalangan gay New York City pada tahun 1979, beberapa bulan setelah eksperimen dimulai di Manhattan.

Ada fakta yang cukup mengejutkan dan secara statistik sangat signifikan, bahwa 20% pria gay yang menjadi sukarelawan eksperimen hepatitis B di New York diketahui mengidap HIV positif pada tahun 1980 (setahun sebelum AIDS menjadi penyakit "resmi").

Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan memiliki kejadian HIV tertinggi dibandingkan tempat lainnya di dunia, termasuk Afrika, yang dianggap sebagai tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain yang juga menghebohkan adalah bahwa kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin inilah yang berfungsi sebagai saluran tempat "berjangkitnya" HIV ke populasi gay di Amerika. Namun hingga sekarang para ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun antara AIDS dengan vaksin tersebut.

Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS berjangkit pada orang heteroseksual, sementara di Amerika Serikat AIDS hanya berjangkit pada kalangan pria gay. Meskipun pada awalnya diberitahukan kepada publik bahwa "tak seorang pun kebal AIDS", faktanya hingga sekarang ini (20 tahun setelah kasus pertama AIDS), 80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat berjangkit pada pria gay, pecandu narkotika, dan pasangan seksual mereka. Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak mendiskriminasi preferensi seksual atau ras tertentu. Apakah benar demikian?


Keserupaan dengan FLU Burung

Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli biologi berhasil mengidentifikasi setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang menginfeksi berbagai orang di seluruh dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain pra dominan yang menginfeksi gay di AS. Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi jaringan rektum, itu sebabnya para gay yang cenderung menderita AIDS dibandingkan non-gay

Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai di Afrika cenderung menginfeksi vagina dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika, HIV cenderung berjangkit pada kalangan heteroseksual.

Para pakar AIDS telah memeberitahukan bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika, padahal Strain HIV yang umum dijumpai di kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat di Afrika! Bagaimana bisa demikian? Apakah sebagian Strain HIV direkayasa agar mudah beradaptasi ke sel yang cenderung menginfeksi kelamin gay?

Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special Virus Cancer Program) mampu mengadaptasi retrovirus tertentu agar menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang sejak tahun 1970, para ilmuwan perang biologis telah belajar mendesain agen-agen (khususnya virus) tertentu yang bisa menginfeksi dan menyerang sel kelompok rasial "tertentu".

Setidaknya tahun 1997, Stephen O Brien dan Michael Dean dari Laboratorium Keanekaragaman Genom di National Cancer Institute menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang kulit putih memiliki gen resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam Afrika tidak memiliki gen semacam itu sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin merupakan "virus buatan manusia yang menyerang ras tertentu" dibandingkan peristiwa alamiah.

Berkat bantuan media Amerika, virus ini menyebar ke jutaan orang tertentu di seluruh dunia sebelum segelintir orang mulai waspada akan kejahatan di balik penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat kesehatan memastikan "masyarakat umum" bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. "AIDS adalah penyakit gay" adalah jargon yang sering dikumandangkan media.

Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo memberitahu reporter Playboy, David Black, Saya pribadi belum pernah menemukan satu kasus pun (di Amerika) dimana pria terkena virus (AIDS) dari seorang wanita melalui hubungan intim heteroseksual . Gallo melanjutkan, AIDS tak akan menjadi bahaya yang tak bisa teratasi bagi masyarakat umum. Apakah ini sekedar spekulasi ataukah Gallo mengetahui sesuatu yang tidak ia ceritakan?