محمد نور توفيق

محمد نور توفيق
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُYAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII 'ALAA DIINIKA "WAHAI YANG MEMBOLAK-BALIKKAN HATI, TEGUHKAN HATIKU PADA AGAMA-MU" Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kita meminta pertolongan kepada-Nya, kita meminta ampunan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikut mereka yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du. http://shohibulummah.blogspot.com/ facebook : muhammadnurtaufiq@rocketmail.

Rabu, 08 Juni 2011

RAHASIA-RAHASIA QALBU



 
 


 
 


RAHASIA-RAHASIA QALBU

Banyak dari kita telah mengetahui bahwa Qalbu yang terhubung dengan Titik Tuhan (God Spot) -atau oleh penulis kadang menyebutnya sebagai Cahaya Kalbu, Cahaya Pengetahuan atau Guru Kehidupan - adalah Kesadaran Universal tentang Kebaikan yang ada pada tiap manusia.

Namun kemampuan Qalbu yang terhubung dengan Titik Tuhan (God Spot) ini tidaklah sebatas pada itu saja. Cahaya Kalbu tak hanya menuntun kita untuk berbuat kebaikan-kebaikan yang berlaku universal itu, tapi lebih dari itu, khususnya bagi mereka yang telah "Tercerahkan" ('Aarif dalam bahasa Arab), juga mengajarkan kita dengan izin-Nya tentang segala Rahasia-rahasia sesuatu yang tidak dapat terpikirkan atau terbayangkan sebelumnya oleh Akal Kognitif, sekalipun sejenius apapun diri kita. Sebab, kapasitas Akal Kognitif terbatas dalam menyerap dimensi keseluruhan Ruang, Cahaya dan Waktu Alam Semesta sedangkan Cahaya Kalbu tidak.

Walau Cahaya Kalbu tertanam pada setiap orang untuk menuntun Ruh orang itu kembali kepada-Nya, tidak setiap orang dapat belajar langsung dari Cahaya Kalbu yang berada dalam dirinya. Sebaliknya, mereka yang telah dianugerahi hikmah makrifat oleh Allah melalui Cahaya Kalbu dalam Ruh dirinya tidak akan lagi takjub membaca ulasan-ulasan kaum 'aarif ataupun uraian-uraian nabi-nabi yang banyak mengulas tentang Hakikat-Hakikat tersembunyi seperti uraian-uraian Nabi Idris (Enoch dalam Bibel), Nabi Ya'qub (Yakob), Nabi Khidhr, Nabi Dawud (David), Nabi Sulayman (Solomon), Nabi Ilyas (Elia), Nabi Ilyasa'a (Elisya), Nabi Ayub, Nabi 'Isa (Yesus) ataupun Rasul Muhammad Saw. Sebab, mereka yang diberkahi makrifat oleh Allah melalui Cahaya Kalbu telah "diperlihatkan" visi/ru'yah/mimpi dan "diperdengarkan" suara yang kadangkala berbunyi bagaikan gemericik air yang bening menyejukkan atau dilain waktu berbunyi bagaikan bukan suara wanita-bukan suara pria, bukan suara orang tua-bukan suara orang muda, bukan bersuara dari dekat (berbisik) tapi bukan juga bersuara dari jauh (gema), suara yang mengandung dualitas sifat yang memadukan Keindahan/Keelokan (Jamal) dan Keagungan/Kebesaran (Jalal) yang amat menyentuh dan mendamaikan jiwa, dan mengajarkan kepada mereka yang dapat "melihat" dan "mendengar"-nya tentang hal-hal yang tersembunyi nan menakjubkan yang tak pernah diketahui, terpikirkan bahkan terbayangkan sebelumnya oleh mereka, tapi menjawab segala keraguan dan kegelisahan dalam diri mereka tentang Hidup, Kehidupan, Takdir, Dunia Akhirat dan Rahasia-rahasia Ketuhanan lainnya. Dan, tingkat pengetahuan yang dapat "dilihat" atau "didengar" oleh mereka yang "tercerahkan" adalah sesuai dengan tingkat kesalehan pribadi mereka masing-masing.

Meski demikian, seseorang yang mampu berguru pada Cahaya Kalbu yang ada dalam Ruh dirinya belum tentu memberikan jawaban yang sama untuk masalah yang sama dengan orang lain yang juga telah berguru pada Cahaya Kalbu. Sebab, walau ada beberapa orang yang diperlihatkan dan/atau diperdengarkan Hakikat yang sama namun kemampuan akal kognitif (kemampuan mental dan emosional) untuk menyerap Hakikat tersebut pada tiap orang berbeda-beda. Contoh, ketika Allah memperkenalkan Diri-Nya, Nabi Adam mengidentifikasikan-Nya sebagai Sang Pencipta lagi Maha Penguasa. Nabi Ibrahim mengidentifikasikan-Nya sebagai EL yang maknanya kurang lebih Yang Maha (baca: Tinggi Tak Terjangkau) Diatas dan Maha Meliputi Segala-galanya. Sedang Nabi Musa mengidentifikasikan-Nya (dalam bahasa ibu dan bahasa sehari-hari Beliau, yaitu Bahasa Ibrani) sebagai YAHWEH (YHWH) yang artinya kurang lebih Ya DIA (adalah DIA) Yang Maha Hadir alias Dialah Realitas Sejati. Rasul Muhammad saw. sendiri mengidentifikasikan-Nya sebagai ALLAH Yang Mempunyai Nama-Nama Indah (Al-asma 'ul-Husna) yang mewakili kemahasempurnaan DIRI ALLAH dan tak terhingga jumlahnya (jumlah "99" Al-asma 'ul-Husna dalam Al-Qur'an menyiratkan ketak-terhinggaan) sebagai RABB atau Penguasa Alam Semesta alias Satu-Satunya Tuhan Yang sebenarnya hanya boleh dan patut Disembah oleh semua makhluk yang ada di alam semesta ini, meski di antara kaum makhluk itu menyeru Nya dengan Nama-Nama yang berbeda-beda namun Dialah Satu-Satunya Tuhan Sejati kita semua.

Juga dengan adanya perbedaan perspektif dalam menangkap HAKIKAT, bisa dipahami mengapa pendekatan dakwah Nabi Nuh dan Nabi Musa pada satu sisi dengan Nabi Ibrahim dan Nabi 'Isa pada sisi lain berbeda. Dua yang pertama berdoa demi kehancuran kaum kafir, sedangkan dua yang terakhir berdoa demi keselamatan (baca: bertobatnya) kaum kafir. Walau demikian, keempat-empat nabi mulia itu membawa wahyu yang sama dari Yang Tunggal.

Lalu bagaimana dapat berguru kepada "Cahaya Kalbu"? Dalam hal ini, berdasarkan pengalaman empiris, penulis peroleh kesadaran bahwa untuk dapat berguru kepada "Cahaya Kalbu" tergantung pada tiga hal. Yaitu: Niat, Usaha dan Waktu. Dua hal yang pertama kuncinya ada pada diri kita sendiri sedang hal yang terakhir tergantung kepada Allah Yang Maha Menetapkan. Untuk masalah Niat dan Usaha, bisa dibaca dalam tulisan-tulisan seperti, diantaranya, dalam bait-bait "Pengobat Jiwa", "Bahagia", "Asmaul Husna Dizkrullaah", "Rahasia-Rahasia Makrifah", "Cahaya Pengetahuan", "Ilmu Berguru" maupun bait-bait singkat "Guru Kehidupan" sebagai berikut:

GURU KEHIDUPAN
guru terbaikmu ada dalam dirimu
guru terburuk pun ada dalam dirimu
maka bersihkan hatimu... dengan khusyuk sholat, doa, dzikir
lebih mulia bila diikuti dengan puasa ikhlas senin kamis rutin
agar guru yang baiklah yang menuntun
jalan pikiran dan hidupmu

(18 Dzul Hijjah 1422H)

Sedangkan perihal syarat WAKTU berkaitan dengan Takdir (baca: Ketetapan) Tuhan. Ada orang yang terkenal impulsif, tak sabaran, tapi bila Allah telah menetapkan dia mendapat Karunia Pengetahuan langsung dari-Nya pada waktu itu jua, tak ada yang dapat mencegah. Contohnya, Nabi Musa. Juga ada hamba-hamba-Nya yang mendapat Wahyu (untuk Nabi) atau Ilham Makrifah (untuk manusia biasa) pada saat kanak seperti dalam kasus Nabi Ibrahim, Nabi Yahya dan Nabi 'Isa (Yesus). Ada yang pada usia remaja, seperti Nabi Isma'il, Nabi Ya'qub, Nabi Yusuf. Dan, ada hamba-hamba-Nya yang mendapat Wahyu atau Ilham Makrifah baru pada usia sekitar 40 tahun atau lebih, seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Musa, Nabi Harun. Sedang Baginda Rasul Muhammad saw. mendapat Wahyu, menurut perhitungan Kalendar Masehi, dalam usia mendekati umur empat puluh atau akhir umur 39 tahun.

Dengan adanya Ketetapan Waktu ini, Allah ingin mengajarkan kepada manusia bahwa bagi mereka yang telah berusaha lama untuk mendapat Ilmu Makrifat-Nya tapi belum mendapatkannya janganlah berputus asa karena mungkin belum waktunya. Sedangkan bagi mereka yang saat muda telah mendapat "Pencerahan" harus senantiasa rendah hati dan mau mempertimbangkan pendapat orang lain karena mungkin saja, sahabat-sahabat sebaya mereka yang belum mendapat "Pencerahan" saat ini bisa jadi di waktu mendatang menjadi "Tercerahkan" melebihi mereka yang lebih dulu "tercerahkan".

Dan ciri-ciri orang yang tercerahkan tampak sekali pada sikap pribadi yang dapat mentransformasikan sekaligus dualitas sifat Jamal (Keindahan) dan Jalal (Keagungan) ILAHI dalam kehidupannya sehari-hari. Yaitu:

"Lembut tapi tegas, berani tapi santun, pembawaannya hangat tapi menjaga batas, berpengetahuan cemerlang tapi rendah hati; sabar terhadap hasil, kukuh-jujur dalam berusaha; tak tergoda jabatan sebelum berkuasa tapi melayani masyarakat pabila berkuasa; pantang meminta-minta (kecuali kepada Allah) justru bersedekah (meski hanya mampu menyumbang senyuman tulus) saat papa, dermawan dan sederhana saat kaya; tiada sedih soal mati, tiada takut menghadapi hidup; memberi banyak kebaikan kepada kehidupan, tersenyum bahagia saat tiba kematian; hidup-mati sebagai Kekasih Tuhan dan Sahabat bagi banyak orang."

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang diberkahi seperti yang demikian. Amiin ya Rabbal 'Aalamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar